KS, JAKARTA – Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
(RSCM) memperkuat perannya sebagai pusat rujukan nasional dalam pelayanan sel punca dan turunannya di Indonesia melalui Stem Cells and Metabolites Clinic (SCMC)
di RSCM Kencana, Jakarta. Penguatan layanan tersebut menjadi bagian dari komitmen RSCM dalam menghadirkan pelayanan terapi sel punca yang aman, bermutu, berbasis bukti ilmiah, dan didukung kolaborasi multidisiplin.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Talk Show Awam RSCM bertajuk “Update
Terapi Sel Punca & Turunannya di Indonesia”, yang merupakan salah satu rangkaian
kegiatan ACTO–ASPI Annual Meeting 2026 di RSCM Kencana, Jakarta. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekaligus ruang untuk memperkenalkan
perkembangan terapi sel punca dan turunannya di Indonesia.
Sel punca (stem cell) dikenal sebagai sel tubuh manusia dengan kemampuan istimewa, yakni mampu memperbarui diri (self renewal) sekaligus berdiferensiasi
menjadi jenis sel lain (differentiate).
Melalui perlakuan khusus di laboratorium, sel
punca dapat diperbanyak dan dipanen untuk dimanfaatkan sebagai pilihan terapi pada
kondisi tanpa pilihan pengobatan lain (no option) maupun penyakit degeneratif.
Pelayanan sel punca mencakup rangkaian tindakan medis, mulai dari pengambilan,
penyimpanan, pengolahan, hingga pemberian terapi dari donor kepada resipien, baik secara autologous (diproses dari sel pasien sendiri) maupun alogenik (diproses dari donor publik) yang telah memenuhi standar mutu, keamanan, dan kemanfaatan.
Layanan ini hadir untuk mengatasi keterbatasan terapi konvensional, sekaligus menunjang perkembangan teknologi kedokteran demi manfaat yang sebesar- besarnya bagi pasien.
One Stop Service dengan Pendekatan Tim Multidisiplin
Sebagai wujud komitmen tersebut, RSCM menghadirkan SCMC sebagai one stop
service bagi pasien yang membutuhkan terapi sel punca dan turunannya.
Melalui pendekatan tim multidisiplin, pasien memperoleh layanan yang komprehensif dan
integratif oleh dokter-dokter berpengalaman di bidangnya, mulai dari fase penegakan diagnosis, pengobatan melalui implantasi sel punca, hingga rehabilitasi
pascaimplantasi.
Kehadiran SCMC merupakan pemenuhan atas penetapan RSCM oleh Kementerian Kesehatan sebagai Rumah Sakit Penyelenggara Penelitian Berbasis Pelayanan
Terapi Sel Punca dan/atau Sel, sekaligus menjadi bagian dari upaya RSCM
mewujudkan visinya memberikan pelayanan kesehatan paripurna dan profesional berstandar internasional.
Hingga saat ini, tercatat lebih dari 3.800 pasien telah menjalani terapi sel punca di RSCM untuk berbagai kondisi, di antaranya patah tulang, defek tulang, kelumpuhan,
osteoarthritis lutut, hernia nukleus pulposus (HNP), osteoporosis, stroke, gagal ginjal terminal pada anak, kaki diabetes, luka bakar, disfungsi ereksi, Multiple System Atrophy (MSA), kebotakan (alopesia), peremajaan kulit (skin rejuvenation), keloid,
hingga kondisi cadangan sel telur yang berkurang. Layanan ini melibatkan lebih dari 50 dokter subspesialis dari berbagai bidang keilmuan, antara lain Orthopedi dan
Traumatologi, Neurologi, Dermatovenereologi, Urologi, Nefrologi Anak, Endokrin Metabolik, Bedah Plastik, Kebidanan, serta Rehabilitasi Medik.
Diperkuat Riset Sejak 2012 dan Sertifikasi CPOB
Kesiapan RSCM dalam bidang ini tidak lepas dari kolaborasi jangka panjang bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk,
yang telah berjalan sejak tahun 2012 dalam pengembangan riset dan produksi sel punca serta turunannya.
Kolaborasi ini telah melalui seluruh tahapan praktik klinis
terbaik (best clinical practice), mulai dari uji in-vitro, in-vivo, uji translasional, hingga uji
klinis, dan telah menghasilkan lebih dari 100 publikasi di jurnal ilmiah bereputasi yang
mendukung prosedur pelayanan maupun penelitian berbasis pelayanan sel punca dan
turunannya di RSCM.
Hanadi Setiarto, Direktur Komersial PT Kimia Farma (Persero) Tbk, menuturkan
bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang regenerative
medicine membuka peluang baru dalam dunia kesehatan, namun perlu diimbangi dengan edukasi yang memadai kepada masyarakat.
“Kemajuan terapi regeneratif tidak cukup hanya didorong oleh perkembangan
teknologi. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang tepat mengenai potensi
manfaat, bukti ilmiah, keamanan, serta penggunaannya. Bagi Kimia Farma, inovasi
harus berjalan beriringan dengan edukasi dan perluasan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, aman, serta bertanggung jawab. Melalui kolaborasi
dengan RSCM dan berbagai institusi kesehatan lainnya, Kimia Farma ingin
berkontribusi membangun ekosistem regenerative medicine Indonesia yang mampu menghubungkan riset, teknologi, kemampuan produksi, tenaga medis, dan pelayanan
kepada pasien. Kami percaya kolaborasi menjadi kunci agar inovasi kesehatan dapat
berkembang secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi
masyarakat,” lanjut Hanadi.
Laboratorium produksi sel punca RSCM juga telah mengantongi sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang menjamin mutu, keamanan, dan kualitas produk, sekaligus memenuhi aspek analisis risiko dan penilaian khasiat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2018 tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca dan/atau Sel, pelayanan sel punca dibedakan
menjadi pelayanan terstandar dan penelitian berbasis pelayanan terapi. Pelayanan
terstandar yang telah tersedia saat ini meliputi 15 kasus di bidang orthopaedi dan
traumatologi berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor 1359 Tahun
2024, serta 8 kasus di bidang bedah plastik berdasarkan KMK Nomor 1200 Tahun
2025.
Dukung Kemandirian Produk Biologis dan Ekosistem Riset Nasional
Sebagai inovasi pengobatan masa depan (advanced therapy medicinal product) yang
kian dibutuhkan masyarakat, RSCM berkomitmen untuk terus mengembangkan
pelayanan sel punca dan turunannya. Selain untuk kepentingan pasien, langkah ini juga sejalan dengan upaya mendukung pemerintah mencapai kemandirian produk
biologis dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan tema besar ACTO–ASPI Annual Meeting 2026 yang mengangkat sinergi antara academia, industry, clinicians, dan government untuk mempercepat translasi riset terapi berbasis sel menuju implementasi klinis, sekaligus memperluas akses layanan yang aman dan berbasis bukti ilmiah bagi masyarakat. (red)




























