KS, SOLO – Transportasi publik di koridor Solo–Sukoharjo–Wonogiri tak sekadar menjadi sarana mobilitas masyarakat. Di tengah tingginya biaya hidup dan terbatasnya pendapatan pekerja, keberadaan angkutan umum dengan tarif terjangkau turut menjadi jaring pengaman ekonomi yang membantu menjaga daya beli masyarakat.
Koridor selatan aglomerasi Subosukawonosraten tersebut merupakan salah satu jalur dengan mobilitas masyarakat yang tinggi. Kota Surakarta menjadi pusat perdagangan dan jasa, Kabupaten Sukoharjo berkembang sebagai kawasan industri, sedangkan Kabupaten Wonogiri berperan sebagai wilayah penyangga dengan arus pekerja dan komuter antardaerah yang cukup besar.
Berdasarkan data BPS 2025, jumlah penduduk di tiga wilayah tersebut mencapai hampir 2,5 juta jiwa. Kota Surakarta memiliki sekitar 528.000 penduduk, Sukoharjo sekitar 915.000 jiwa, dan Wonogiri sekitar 1,055 juta jiwa.
Jumlah penduduk yang besar tersebut beriringan dengan tingginya mobilitas harian. Buruh pabrik, aparatur sipil negara (ASN), pelajar, mahasiswa, pedagang pasar, hingga pekerja sektor formal dan informal setiap hari bergerak melintasi tiga wilayah tersebut.
Bagi kelompok pekerja berpenghasilan rendah, biaya perjalanan menjadi salah satu komponen pengeluaran rumah tangga yang cukup menentukan. Dengan upah minimum kabupaten/kota yang berada di kisaran Rp2,1 juta hingga Rp2,4 juta per bulan, tingginya biaya mobilitas berpotensi menggerus pendapatan yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Dalam kondisi tersebut, Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri dan KA Perintis Batara Kresna memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar menyediakan layanan angkutan.
Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jawa Tengah, Anastasia Yulianti, menilai transportasi publik murah dapat menjadi instrumen perlindungan sosial-ekonomi bagi masyarakat sekaligus menopang aktivitas ekonomi kawasan.
“Transportasi publik di koridor Solo–Sukoharjo–Wonogiri bukan sekadar alat angkut. Dengan tarif yang terjangkau, transportasi publik menjadi jaring pengaman yang menjaga daya beli masyarakat pekerja, khususnya mereka yang berpenghasilan setara UMK.”
Hampir 1,9 Juta Penumpang
Besarnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik di koridor selatan Solo Raya terlihat dari jumlah penumpang sepanjang 2025.
Trans Jateng Koridor Solo–Wonogiri tercatat melayani sekitar 1.541.123 penumpang sepanjang tahun tersebut. Sementara itu, KA Perintis Batara Kresna mengangkut sekitar 353.712 penumpang.
Jika digabungkan, kedua moda tersebut melayani hampir 1,9 juta perjalanan penumpang dalam setahun.
Menurut Anastasia, angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap transportasi publik yang terjangkau dan dapat diandalkan sebenarnya cukup kuat.
“Angka hampir 1,9 juta penumpang ini menunjukkan bahwa transportasi publik bersubsidi memiliki pasar yang nyata. Masyarakat membutuhkan moda yang mampu menghubungkan tempat tinggal, tempat kerja, pusat pendidikan, pasar, dan pusat aktivitas ekonomi dengan biaya yang tetap terjangkau.”
Besarnya jumlah penumpang sekaligus memperlihatkan bahwa layanan transportasi publik bukan hanya dibutuhkan oleh masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Moda tersebut juga memiliki potensi menjadi pilihan rasional bagi pekerja dan pelajar yang ingin menekan biaya perjalanan sehari-hari.
Dua Moda dengan Peran Berbeda
Trans Jateng dan Batara Kresna memiliki karakter pelayanan yang berbeda sehingga keduanya dinilai tidak perlu ditempatkan sebagai moda yang saling bersaing.
Trans Jateng lebih fleksibel untuk mendukung mobilitas harian. Dengan armada bus dan titik pemberhentian di sepanjang koridor, layanan tersebut dapat menjangkau kawasan permukiman, industri, sekolah, pasar, hingga pusat aktivitas masyarakat.
Tarif yang relatif murah, sekitar Rp5.000 bagi penumpang umum dan Rp1.000 bagi kelompok tertentu seperti buruh, pelajar, dan veteran, membuat layanan ini relevan bagi masyarakat berpendapatan rendah.
Sementara itu, Batara Kresna menawarkan perjalanan berbasis rel melalui rute Purwosari–Wonogiri. Kereta tersebut melayani sejumlah titik penting, termasuk Solo Kota, Sukoharjo, dan Pasar Nguter.
Dengan tarif perintis sekitar Rp4.000 per perjalanan, Batara Kresna memiliki daya tarik bagi masyarakat yang membutuhkan perjalanan langsung, termasuk pedagang pasar, lansia, keluarga, maupun wisatawan.
Anastasia mengatakan kedua moda tersebut justru dapat saling melengkapi.
“Keduanya tidak harus diposisikan sebagai pesaing. Justru kekuatan masing-masing moda dapat menjadi pasangan yang saling melengkapi. Trans Jateng memiliki fleksibilitas dan jangkauan titik henti, sedangkan Batara Kresna memiliki kepastian perjalanan dan keunggulan jalur rel yang bebas dari kemacetan jalan raya.”
Menekan Beban Transportasi Pekerja
Manfaat paling langsung dari transportasi publik murah adalah berkurangnya biaya mobilitas rumah tangga.
Bagi pekerja dengan pendapatan sekitar Rp2,1 juta hingga Rp2,4 juta per bulan, menggunakan kendaraan pribadi setiap hari tidak hanya membutuhkan biaya bahan bakar. Ada pula pengeluaran untuk parkir, perawatan kendaraan, serta risiko biaya tidak terduga akibat kerusakan maupun kecelakaan.
Sebaliknya, transportasi publik bersubsidi memungkinkan sebagian pengeluaran tersebut ditekan.
Uang yang dihemat dari biaya perjalanan dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, mulai dari makanan, pendidikan anak, kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
“Ketika ongkos perjalanan dapat ditekan, yang dihemat bukan hanya uang transportasi. Ada ruang pendapatan yang bisa kembali digunakan untuk kebutuhan keluarga. Dalam konteks pekerja berpenghasilan UMK, ini sangat berarti bagi ketahanan ekonomi rumah tangga.”
Selain membantu menjaga daya beli, transportasi publik juga berpotensi mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
Jutaan perjalanan yang dilayani angkutan umum setiap tahun dapat ikut mengurangi tekanan lalu lintas di koridor Solo–Wonogiri yang juga menjadi jalur pergerakan kendaraan berat industri, bus antarkota, serta sepeda motor komuter.
Integrasi Antarmoda Jadi Pekerjaan Rumah
Tantangan berikutnya bukan semata-mata menambah jumlah armada, tetapi memastikan Trans Jateng dan Batara Kresna terhubung dalam satu sistem perjalanan yang mudah digunakan masyarakat.
Anastasia menyebut sedikitnya ada tiga simpul strategis yang berpotensi dikembangkan sebagai titik integrasi, yakni Stasiun Wonogiri, Stasiun Sukoharjo, dan Stasiun Pasar Nguter.
Stasiun Wonogiri, misalnya, dapat dikembangkan menjadi titik perpindahan moda yang memudahkan penumpang kereta melanjutkan perjalanan menuju pusat kota maupun wilayah lain di Wonogiri.
Stasiun Sukoharjo juga berpotensi menjadi titik alih moda bagi masyarakat yang melakukan perjalanan menuju Solo maupun kawasan industri dan permukiman di Sukoharjo.
Sementara itu, Stasiun Pasar Nguter dapat dikembangkan sebagai simpul transportasi yang mendukung mobilitas pekerja dan aktivitas ekonomi di kawasan sekitarnya.
Menurut Anastasia, integrasi fisik menjadi salah satu hal yang harus diprioritaskan.
“Penumpang tidak boleh turun dari kereta kemudian harus berjalan jauh atau menyeberang jalan yang berisiko hanya untuk mendapatkan bus. Jarak antara kedua moda harus dibuat sedekat dan senyaman mungkin.”
Jadwal Bus dan Kereta Perlu Diselaraskan
Selain persoalan fisik, integrasi jadwal juga menjadi faktor penting.
Batara Kresna memiliki jadwal perjalanan yang relatif tetap, sedangkan Trans Jateng memiliki frekuensi perjalanan yang lebih tinggi. Kondisi tersebut sebenarnya membuka peluang untuk menerapkan konsep timed transfer, yakni penyelarasan jadwal agar perpindahan penumpang dari satu moda ke moda lain berlangsung lebih cepat.
Bus, misalnya, dapat dijadwalkan tiba di sekitar stasiun beberapa menit setelah kereta datang. Dengan pola tersebut, penumpang tidak perlu menunggu terlalu lama sebelum melanjutkan perjalanan.
Pada waktu ketika layanan kereta tidak tersedia, Trans Jateng juga dapat menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat di sepanjang koridor.
“Kalau jadwal kedua moda diselaraskan, penumpang tidak hanya mendapatkan transportasi murah, tetapi juga mendapatkan perjalanan yang lebih pasti dan efisien. Waktu tunggu yang pendek akan meningkatkan daya tarik transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi.”
Dari Mobilitas hingga Pemerataan Ekonomi
Integrasi kedua moda pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan persoalan transportasi. Dampaknya dapat menjangkau aspek ekonomi dan pemerataan kesempatan.
Trans Jateng dapat berperan sebagai moda utama untuk mobilitas komuter harian, sementara Batara Kresna menjadi alternatif perjalanan langsung sekaligus memiliki peluang mendukung sektor pariwisata.
Pada akhir pekan, misalnya, perjalanan menggunakan Batara Kresna dapat mendorong wisatawan menuju Wonogiri. Selanjutnya, Trans Jateng dapat berfungsi sebagai moda lanjutan untuk menjangkau destinasi yang tidak berada di sepanjang jalur kereta.
Konektivitas tersebut juga dapat memperluas akses masyarakat terhadap pekerjaan dan pendidikan. Warga Wonogiri dan Sukoharjo memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pusat pendidikan dan lapangan kerja di Solo tanpa harus berpindah tempat tinggal ke kawasan perkotaan.
Sebaliknya, kawasan industri Sukoharjo dan sektor pariwisata Wonogiri memperoleh akses yang lebih luas terhadap tenaga kerja, konsumen, dan wisatawan.
“Transportasi publik yang terintegrasi pada akhirnya bukan hanya berbicara mengenai perpindahan manusia, tetapi juga perpindahan kesempatan ekonomi. Ketika orang bisa tinggal di daerah dengan biaya hidup yang relatif lebih rendah namun tetap mudah mengakses pekerjaan dan pendidikan, maka transportasi menjadi instrumen pemerataan ekonomi.”
Menjadi Urat Nadi Selatan Solo Raya
Hampir 1,9 juta perjalanan penumpang yang dilayani Trans Jateng dan Batara Kresna sepanjang 2025 menjadi gambaran bahwa kebutuhan terhadap transportasi publik di koridor Solo–Sukoharjo–Wonogiri sudah nyata.
Pekerjaan rumahnya kini adalah memastikan pertumbuhan layanan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas halte dan stasiun, integrasi antarmoda, penyelarasan jadwal, serta keterjangkauan tarif.
Bagi Anastasia, kedua moda tersebut seharusnya ditempatkan dalam satu ekosistem transportasi kawasan.
“Trans Jateng dan Batara Kresna tidak perlu saling mematikan. Keduanya justru harus menjadi duet transportasi yang menopang masyarakat di selatan Solo Raya. Jika integrasi ini berjalan baik, manfaatnya bukan hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga melindungi daya beli pekerja dan memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan secara inklusif dan berkelanjutan.”
Dengan demikian, transportasi publik murah di koridor Solo–Sukoharjo–Wonogiri bukan semata persoalan konektivitas. Di balik perjalanan jutaan penumpang setiap tahun, terdapat fungsi yang lebih luas: menjaga mobilitas pekerja, menekan beban pengeluaran rumah tangga, membuka akses terhadap pekerjaan dan pendidikan, serta memastikan roda perekonomian di selatan Solo Raya terus bergerak.





























