KS, JAKARTA, 29 September 2026
Kecepatan mengenali gejala, memberikan penanganan awal, dan menentukan rujukan menjadi kunci dalam menyelamatkan pasien dengan kegawatdaruratan kardiovaskular. Karena itu, Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPD Harapan Kita) bersama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memperkuat kapasitas dokter layanan primer melalui kegiatan Primary Care Update: Cardiovascular Emergency and Referral System.
Kegiatan yang berlangsung di RSJPD Harapan Kita tersebut diikuti dokter umum Puskesmas se-DKI Jakarta. Kegiatan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia 2026 sekaligus HUT ke-41 RSJPD Harapan Kita, dengan mengangkat tema “Optimalisasi Deteksi Dini, Tata Laksana Awal, dan Sistem Rujukan Penyakit Kardiovaskular pada Anak dan Dewasa.”
Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, Dr. dr. Iwan Dakota, Sp.JP(K), MARS, mengatakan Puskesmas memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu fasilitas kesehatan pertama yang didatangi masyarakat ketika mengalami keluhan kesehatan.
“Puskesmas memiliki peran penting sebagai tempat masyarakat pertama kali mencari pertolongan. Ketika tanda penyakit jantung dapat dikenali lebih dini dan pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan yang tepat, kesempatan untuk memperoleh pelayanan lanjutan akan lebih baik sehingga peluang pasien untuk tertolong akan sangat besar,” ujar Iwan Dakota.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara layanan primer dan pusat rujukan kardiovaskular. Dengan jejaring yang semakin kuat, pasien diharapkan memperoleh penanganan yang berkesinambungan sejak deteksi awal hingga mendapatkan layanan lanjutan.
Perkuat Kemampuan Tenaga Kesehatan
Penguatan kemampuan tenaga kesehatan di tingkat layanan primer bukan hal baru bagi RSJPD Harapan Kita. Sebagai Pusat Jantung Nasional, rumah sakit tersebut telah menjalankan berbagai program pendidikan, pelatihan, sosialisasi, dan penguatan jejaring pelayanan kardiovaskular selama bertahun-tahun.
Program tersebut diarahkan agar tenaga kesehatan, khususnya dokter dan perawat di fasilitas pelayanan kesehatan, mampu mengenali tanda-tanda kegawatan jantung, melakukan penanganan awal, menentukan kapan pasien membutuhkan tindakan segera, serta melakukan rujukan secara tepat dan cepat.
“Kita ingin semua, khususnya tenaga kesehatan di DKI Jakarta, mengetahui kegawatan kardiovaskular, tahu kapan harus merujuk, dan tahu mana yang bisa kita tangani segera serta mana yang harus segera dirujuk,” demikian disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Upaya penguatan kapasitas tersebut dinilai penting karena tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan primer dapat mengalami rotasi atau perpindahan tugas. Karena itu, pelatihan dan koordinasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya dalam kegiatan sesekali.
Selain peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, pendekatan promotif dan preventif juga menjadi perhatian. Edukasi kepada masyarakat mengenai faktor risiko, gejala awal, dan pentingnya mencari pertolongan sedini mungkin dinilai dapat memberikan dampak yang lebih luas dibandingkan hanya berfokus pada penanganan ketika penyakit sudah berkembang.
Beban Penyakit Jantung Masih Tinggi
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter sebesar 0,85 persen secara nasional dan 1,56 persen di DKI Jakarta. Angka tersebut menggambarkan proporsi penduduk yang pernah memperoleh diagnosis dokter dan tidak secara langsung menunjukkan jumlah kasus kegawatdaruratan jantung.
Sementara itu, data yang dikutip dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia mencapai 251,09 per 100.000 penduduk pada 2019, meningkat dibandingkan 247,99 per 100.000 penduduk pada tahun sebelumnya.
Besarnya beban penyakit tersebut juga menjadi alasan pentingnya memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, penanganan awal, dan sistem rujukan.
Direktur Medik dan Keperawatan RSJPD Harapan Kita, dr. Muhadi, Sp.PD, KKV, M.Epid, menekankan bahwa kemampuan mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan secara cepat merupakan bagian penting dari penanganan pasien dengan kegawatdaruratan kardiovaskular.
“Dalam kegawatdaruratan kardiovaskular, dokter layanan primer perlu mengenali tanda bahaya, melakukan penanganan awal dan menentukan kebutuhan rujukan secara cepat dan tepat. Komunikasi yang baik antar fasilitas kesehatan juga membantu memastikan kesinambungan penanganan pasien,” ujar Muhadi.
Dokter Puskesmas Dapatkan Pembaruan Penanganan Jantung
Dalam kegiatan tersebut, para dokter Puskesmas mendapatkan seminar ilmiah, clinical update, serta diskusi kasus mengenai penanganan penyakit kardiovaskular di layanan primer.
Materi mencakup kegawatdaruratan kardiovaskular pada dewasa di layanan primer, dengan penekanan pada kemampuan mengenali kondisi secara lebih cepat dan menentukan rujukan secara tepat. Selain itu, peserta juga mendapatkan materi mengenai deteksi dini dan rujukan penyakit jantung bawaan pada anak.
Kegiatan dilanjutkan dengan hospital tour ke sejumlah fasilitas RSJPD Harapan Kita, antara lain Cathlab, Rehabilitasi, MSCT/MRI, CVC, dan Echocardiography.
Pengenalan fasilitas tersebut memberikan gambaran kepada dokter Puskesmas mengenai kemampuan layanan kardiovaskular lanjutan yang tersedia di RSJPD Harapan Kita. Pada saat yang sama, kegiatan ini membuka ruang komunikasi yang lebih erat antara tenaga kesehatan di layanan primer dan rumah sakit rujukan.
RSJPD Harapan Kita Perkuat Jejaring Nasional
Sebagai Pusat Jantung Nasional, RSJPD Harapan Kita terus mengembangkan jejaring pelayanan kardiovaskular di berbagai wilayah Indonesia. Rumah sakit khusus tipe A di bawah Kementerian Kesehatan yang berdiri sejak 1985 tersebut saat ini berstatus Badan Layanan Umum.
RSJPD Harapan Kita membina jejaring kardiovaskular yang mencakup 568 rumah sakit di 38 provinsi di Indonesia.
Sepanjang 2023–2026, RSJPD Harapan Kita juga mencatat berbagai capaian dan pengakuan di tingkat nasional maupun internasional, antara lain akreditasi paripurna dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), sertifikasi internasional dari Joint Commission International (JCI), serta sejumlah penghargaan di bidang layanan dan manajemen rumah sakit.
Pada 2026, RSJPD Harapan Kita juga memperoleh penghargaan Best in Financial Improvement dalam Hospital Management Asia (HMA) Awards di Bangkok. Rumah sakit tersebut juga mempertahankan capaian Gold Award dari program American Heart Association Get With The Guidelines – Heart Failure yang telah diraih secara berjenjang sejak 2022.
Dari sisi layanan, sepanjang 2025 RSJPD Harapan Kita mencatat lebih dari 155.900 kunjungan rawat jalan, 18.154 pasien rawat inap, serta lebih dari 13.600 tindakan bedah dan prosedur medis. Layanan tersebut didukung 414 tempat tidur dan lebih dari 2.100 tenaga profesional.
Selain pelayanan klinis, RSJPD Harapan Kita juga menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian di bidang kardiovaskular. Rumah sakit tersebut memiliki pusat pendidikan dan riset kardiovaskular yang terakreditasi “A” oleh Kementerian Kesehatan, dengan 169 penelitian aktif serta kerja sama internasional dengan berbagai institusi kesehatan dan akademik.
Menuju Pusat Kardiovaskular Asia-Pasifik
Penguatan jejaring layanan primer menjadi bagian dari visi RSJPD Harapan Kita untuk terus meningkatkan mutu pelayanan jantung dan pembuluh darah, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga kawasan Asia-Pasifik.
Untuk mendukung pengembangan layanan tersebut, RSJPD Harapan Kita juga menyiapkan gedung layanan baru melalui kerja sama dengan Tokushukai Medical Group. Gedung baru tersebut direncanakan memiliki 22 lantai dan tiga rubanah, dengan penambahan 462 tempat tidur serta berbagai fasilitas modern, termasuk helipad.
Pengembangan infrastruktur tersebut diharapkan semakin memperkuat kapasitas RSJPD Harapan Kita dalam memberikan layanan kardiovaskular komprehensif.
Melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan jejaring Puskesmas, RSJPD Harapan Kita menegaskan komitmennya untuk memperkuat kesinambungan pelayanan jantung, mulai dari promosi dan pencegahan, deteksi dini, penanganan awal, hingga rujukan ke fasilitas pelayanan yang sesuai.
Bagi RSJPD Harapan Kita, penguatan layanan tidak hanya dilakukan dengan meningkatkan kapasitas rumah sakit, tetapi juga memastikan tenaga kesehatan di lini pertama memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai. Dengan demikian, ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan jantung, keputusan untuk memberikan pertolongan dan melakukan rujukan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Setiap menit berharga.”






















