Keberadaan Pancasila dan Toleransi pada Umat Antar Beragama di Negara Indonesia

Oleh : Fathan Rizky (Mahasiswa Universitas Pancasila)

Indonesia adalah negeri yang lahir dari sebuah keberagaman.Di tanah negara Indonesia ini, terdiri dari atas ras, suku, budaya, dan macam bahasa adat, maka negara indonesia sendiri sangat cocok disebut sebagai negara multikultural, yang mana ratusan suku hidup berdampingan, puluhan bahasa daerah digunakan sehari-hari oleh masyarakatnya, dan berbagai agama dianut oleh masyarakatnya, yang mana Negara Indonesia mengakui 6 (enam) agama yaitu agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.Semua itu menjadikan Indonesia begitu kaya, namun sekaligus rumit dan menantang.Karena, menjaga persatuan di tengah perbedaan di masyarakat adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan.Di sinilah Pancasila mempunyai peran yang sangat penting.Pancasila bukanlah sekadar kumpulan nilai-nilai yang hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri yang diajarkan di sekolah, melainkan jiwa bangsa ini.Pancasila adalah jembatan pemersatu bangsa yang menyatukan keberagaman Indonesia, terutama dalam hal hubungan keharmonisan masyarakat yang mempunyai perbedaan keyakinan.Tanpa adanya nilai-nilai Pancasila, mungkin Indonesia sudah terpecah belah oleh perbedaan keyakinan.

Sila pertama, yang mengajarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, menyatakan dengan tegas  bahwa bangsa ini harus selalu menghormati nilai-nilai keagamaan, baik menghormati nilai keagamaan sendiri maupun kelompok agama lain.Meski demikian yang istimewa mengenai sila Pancasila yang mengajarkan Ketuhanan Yang Maha Esa ini adalah, sila ini tidak berpihak pada satu keyakinan agama saja.Sila pertama Pancasila yang mengajarkan Ketuhanan Yang Maha Esa ini memberikan ruang sarana bagi siapa pun untuk menyembah Tuhannya sesuai dengan keyakinan agama masing-masing.Yaitu, Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, yang mana semuanya mendapatkan kedudukkan yang setara dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Itulah yang seharusnya menjadi pondasi toleransi beragama di Indonesia, pemahaman mengenai perbedaan keyakinan merupakan bagian dari keberagaman kehidupan di Indonesia.Tidak adanya paksaan untuk menjadi sama.Justru, nilai-nilai Pancasila mengajarkan bahwa keragaman itulah sumber pemersatu keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Toleransi itu bukan hanya soal membebaskan orang lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan apa yang diyakininya.Tetapi, makna toleransi mempunyai arti yang lebih dalam dan luas dari itu. Toleransi sendiri berarti memahami dan menerima bahwa ada seseorang yang mempunyai perbedaan dari kita, dan itu bukanlah suatu masalah.Makna, toleransi berarti tidak memaksakan pendapat, tidak menyebar kebencian, dan tidak menolak kehadiran orang lain hanya karena memiliki keyakinan yang berbeda.

Tetapi, kita tidak boleh menutup mata, kita harus dapat melihat dan mengakui bagaimana toleransi di kehidupan masyarakat belum berjalan sebagaimana mestinya.Bahwa, tidak semua orang di negeri ini sudah benar-benar memahami konsep-konsep dari nilai toleransi.Sebagai masyarakat kita masih sering mendengar kabar tentang penolakan pembangunan rumah ibadah, intoleransi terhadap kelompok agama minoritas, atau bahkan kekerasan atas nama agama.Yang mana hal-hal tersebut tidak sesuai dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.Lalu, bagaimana untuk dapat merubah hal-hal tersebut agar tidak terjadi lagi? apa yang bisa kita lakukan?

Pertama, peran negara sangat penting.Pemerintah harus hadir, bukan hanya membuat aturan, tapi juga menegakkan keadilan bagi semua.Jangan sampai ada kelompok yang merasa diistimewakan, sementara yang lain terus-menerus dikorbankan.Hukum harus berdiri tegak melindungi semua umat beragama di Indonesia.

Kedua, pendidikan harus menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai kebhinekaan. Anak-anak perlu belajar sejak dini bahwa teman mereka yang berbeda keyakinan bukanlah lawan, tetapi saudara dalam kemanusiaan.Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga tempat belajar hidup bersama.

Ketiga, tokoh agama dan tokoh masyarakat harus menjadi teladan.Dari mimbar keagamaan, dari forum warga, dari panggung-panggung kecil di desa, suara-suara damai harus terus dikumandangkan.Agama tidak boleh dijadikan alat untuk memecah belah, melainkan jembatan untuk saling memahami.

Keempat, media dan media sosial juga punya tanggung jawab besar.Di era digital ini, informasi menyebar begitu cepat.Sayangnya, yang sering viral justru hal-hal negatif.Kita perlu lebih banyak cerita-cerita tentang kerja sama lintas agama, gotong royong saat bencana, atau saling membantu saat hari raya.Kisah-kisah seperti itu bisa menginspirasi banyak orang untuk menjaga harmoni.

Pancasila bukan sekadar warisan dari masa lalu.Pancasila adalah panduan untuk masa depan.Jika kita sungguh-sungguh mengamalkan nilai-nilainya, maka masa depan Indonesia akan penuh dengan kedamaian.Kita akan hidup dalam masyarakat yang saling menghormati, saling memahami, dan saling menjaga.Tapi semua itu tak akan terjadi jika hanya dibicarakan. Toleransi harus dimulai dari diri kita sendiri.Dari cara kita berbicara, dari sikap kita di media sosial, dari pilihan kita dalam bersikap saat melihat perbedaan.

Indonesia bukan milik satu agama.Indonesia milik kita bersama.Dan Pancasila adalah rumah besar yang menaungi seluruh perbedaan itu. Selama kita tetap setia pada nilai-nilainya, maka apa pun keyakinan kita, kita tetap bisa berjalan bersama, membangun negeri ini dengan damai dan saling menghargai.

 

 

Related Posts

  • January 30, 2026
Ketua Umum PP Polri Tegaskan Loyalitas Purnawirawan, Wakapolri: Kedudukan Polri di Bawah Presiden Fondasi Strategis

  KS, JAKARTA — Ketua Umum Persatuan Purnawirawan (PP) Polri, Jenderal Pol (Purn) Drs. H. Bambang Hendarso Danuri, M.M., menegaskan bahwa PP Polri tetap memiliki komitmen tegak lurus terhadap almamater…

  • January 30, 2026
Haedar Nashir Nilai Wacana Polri di Bawah Kementerian Tak Relevan dengan Semangat Reformasi

  KS, SEMARANG  — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menilai wacana penempatan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian tertentu tidak relevan dengan arah reformasi nasional yang…

Leave a Reply

Profil Senator

Sepenggal Kisah Ikhsan dan Mutiara, Memupuk Harapan di Sekolah Rakyat

  • July 17, 2025
Sepenggal Kisah Ikhsan dan Mutiara, Memupuk Harapan di Sekolah Rakyat

Maju Gantikan Ketua DPD, Sultan Klaim Didukung 105 Anggota

  • September 29, 2024
Maju Gantikan Ketua DPD, Sultan Klaim Didukung 105 Anggota

Ditengah Acara Deklarasi, Dua Anggota Terpilih 2024-2029 yang Hadir Serahkan Dukungan

  • June 23, 2024
Ditengah Acara Deklarasi, Dua Anggota Terpilih 2024-2029 yang Hadir Serahkan Dukungan

DPD Apresiasi Menko Hadi Tegas Memberantas Judi Online

  • June 21, 2024
DPD Apresiasi Menko Hadi Tegas Memberantas Judi Online

Darman Siahaan Sosok Caleg DPD Segudang Organisasi Mendaftar ke KPU

  • May 12, 2023
Darman Siahaan Sosok Caleg DPD Segudang Organisasi Mendaftar ke KPU

Maling Berjimat Tepergok Curi Motor Diamuk Warga Kebon Jeruk

  • October 9, 2022
Maling Berjimat Tepergok Curi Motor Diamuk Warga Kebon Jeruk