KS, Jakarta – Lebaran selalu punya cara menghadirkan kehangatan. Setelah sebulan penuh berpuasa, umat Islam merayakan Idul Fitri dengan saling berkunjung, bermaaf-maafan, dan berbagi cerita. Di balik tradisi itu, tersimpan makna yang lebih dalam yakni silaturahim sebagai jembatan hati yang menyambung kembali hubungan yang sempat renggang.
Ustadz Zakaria dari Duta Mulia menuturkan, silaturahim bukan sekadar rutinitas Lebaran, melainkan ibadah yang membawa banyak keberkahan.
BACA JUGA : Polres Kepulauan Seribu Gelar Sholat Idul Fitri 1447 H di Ancol dan Amankan Pelaksanaan di Pulau Penduduk
“Silaturahim itu memperpanjang umur dalam arti keberkahan hidup, melapangkan rezeki, dan menumbuhkan kasih sayang di antara sesama,” ujarnya dengan penuh kelembutan. Sabtu (21/03)
Di tengah suasana Lebaran, silaturahim menjadi terapi sosial yang menyentuh batin. Dari rumah ke rumah, dari senyum ke senyum, kita diajak untuk membuka hati, meminta maaf, dan memberi maaf. Bukan hanya menjaga hubungan dengan sesama, tapi juga memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.
BACA JUGA : Pantau Malam Takbiran, Kapolri Pastikan Pengamanan Rangkaian Perayaan Idulfitri
Lebaran juga menjadi momentum untuk kembali mengenali wajah-wajah yang dulu akrab, namun sempat terabaikan oleh kesibukan. Dalam pelukan hangat keluarga, dalam obrolan ringan di ruang tamu, tumbuh kembali empati dan kepedulian yang sempat terkikis oleh rutinitas.
“Jangan biarkan kesibukan atau gengsi menghalangi kita untuk bersilaturahim,” pesan Ustadz Zakaria. Ia mengingatkan bahwa silaturahim bukan hanya soal tradisi, tapi tentang menjaga keberkahan hidup yang penuh doa dan dukungan dari orang-orang terdekat.
BACA JUGA : 155.908 Warga Binaan Terima RK dan PMPK Idulfitri 1447 H / 2026 M
Di balik hidangan ketupat dan amplop THR, Lebaran sejatinya adalah tentang pulang. Pulang kepada keluarga, pulang kepada kedamaian, dan pulang kepada diri sendiri. Karena di sanalah, di tengah hangatnya silaturahim, kita menemukan kembali makna hidup yang sesungguhnya.(A2n)









