KS, Lebak, Banten – Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, perempuan Suku Baduy tetap mempertahankan tradisi warisan leluhur mereka. Salah satu bentuk nyata dari kesetiaan mereka terhadap adat adalah menenun, sebuah keterampilan yang tidak hanya menghasilkan kain berkualitas, tetapi juga menjadi simbol ketaatan dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
Di perkampungan adat Baduy, yang berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, aktivitas menenun masih menjadi pemandangan sehari-hari. Di rumah panggung sederhana dengan konstruksi bambu khas Baduy, perempuan-perempuan duduk bersila di bale-bale, telaten merajut benang menjadi kain penuh makna.
Bagi perempuan Baduy, menenun bukan sekadar keterampilan, tetapi juga bagian dari proses pematangan diri yang telah diajarkan sejak kecil. Ambu Sani, salah satu perempuan Baduy, mengungkapkan bahwa dirinya telah belajar menenun sejak usia 10 tahun, seperti halnya banyak perempuan lain di komunitasnya.
“Setiap perempuan Baduy pasti bisa menenun. Ini bukan hanya soal membuat kain, tetapi juga bagaimana kami menjaga warisan nenek moyang. Ada beberapa motif khas yang biasa kami buat, seperti suat songket, adu macung, poleng kacang, dan janggarwari,” ujar Ambu Sani.
Motif janggarwari dikenal sebagai salah satu yang paling rumit dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dibuat. Keunikan kain tenun Baduy terletak pada pola garis-garis warna-warni yang terinspirasi dari alam, menjadikannya lebih dari sekadar kain, tetapi juga identitas budaya yang kuat.
Bagi masyarakat Baduy Dalam, tenun bukan hanya untuk dijual, tetapi menjadi pakaian adat yang mereka gunakan sehari-hari. Di sisi lain, masyarakat Baduy Luar mulai membuka diri terhadap aspek ekonomi, menjadikan kain tenun sebagai salah satu sumber penghidupan utama bagi komunitas mereka.
Keberlanjutan tradisi menenun juga secara langsung berkontribusi pada pelestarian lingkungan, karena bahan baku berasal dari alam dan tidak melalui proses kimia yang dapat merusak ekosistem. Perempuan Baduy turut berperan menjaga alam dengan tetap mempertahankan cara produksi yang ramah lingkungan.
Meski dunia terus berkembang, masyarakat Baduy tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional. Keahlian menenun terus diwariskan kepada generasi muda, memastikan bahwa budaya ini tidak luntur.
Kini, tenun Baduy mulai dikenal di pasar nasional, bahkan menarik perhatian wisatawan dan kolektor kain tradisional. Pemerintah daerah dan berbagai komunitas budaya juga berupaya untuk mengangkat tenun Baduy sebagai warisan budaya yang bernilai ekonomi tinggi, sekaligus menjaga agar nilai-nilai asli tetap bertahan.
Di tangan perempuan Baduy, kain tenun bukan sekadar produk tekstil, melainkan cerminan dari sebuah perjalanan budaya yang terus hidup di tengah zaman.











