KS, Madinah – Di bawah naungan payung-payung raksasa Masjid Nabawi dan Ka’bah, ribuan jemaah haji Indonesia berhanyut dalam dzikir. Namun, di balik kekhusyukan itu, ada tantangan nyata yang membayangi yakni suhu udara yang menyentuh angka 37 derajat Celsius dan rasa lelah yang perlahan menggerogoti fisik.
Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) hingga Minggu (26/04), tercatat 20 jemaah haji Indonesia harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Arab Saudi, sementara 22 lainnya mendapatkan perawatan intensif di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengungkapkan bahwa kelelahan menjadi “pintu masuk” bagi kambuhnya penyakit bawaan. “Mayoritas memicu kelelahan, yang kemudian memicu tekanan darah tinggi hingga diabetes melitus,” jelasnya.
Haji memang ibadah fisik, namun bukan berarti jemaah harus memaksakan diri melampaui batas kemampuan tubuh. Cuaca Madinah yang menyengat menuntut strategi yang cerdas. Maria mengimbau jemaah untuk lebih bijak, seperti memperbanyak minum air putih dan menghindari aktivitas di bawah terik matahari, termasuk saat waktu salat Dzuhur dan Ashar.
Senada dengan itu, Pimpinan Asni Tour, H. Makkah Aziz, menekankan bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari syariat itu sendiri. Menurutnya, tanpa fisik yang prima, kekhusyukan ibadah bisa terganggu.
“Minum air putih yang cukup, istirahat teratur, dan jangan memaksakan diri. Ingat, menjaga kesehatan adalah bagian dari menjaga ibadah agar tetap khusyuk,” ujar Aziz saat memberikan imbauan kepada para jemaah.
Bagi Aziz, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan individu, melainkan ujian kepedulian sosial. Di tengah kondisi cuaca yang ekstrem, semangat gotong royong antarjemaah menjadi sangat krusial.
“Kebersamaan di Tanah Suci bukan hanya soal ibadah, tapi juga saling peduli. Kalau ada yang terlihat kelelahan, jangan ragu untuk menyarankan istirahat,” Aziz. Baginya, saling mengingatkan antar jemaah akan membuat perjalanan panjang ini terasa lebih ringan dan bermakna.
Kisah dari Madinah tahun ini menjadi pengingat bagi kita semua yakni bahwa haji adalah harmoni antara kekuatan spiritual dan ketahanan fisik. Di antara debu dan panasnya gurun, disiplin menjaga diri adalah kunci untuk bisa pulang membawa predikat haji mabrur dalam kondisi sehat walafiat. (A2n)









