Skip to content
-
Logo_KS Kabar Senator

Media Aspirasi dan Inspirasi

Logo_KS Kabar Senator

Media Aspirasi dan Inspirasi

  • Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Cyber
  • Privacy & Policy
  • Home
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Cyber
  • Privacy & Policy
Close

Search

Greenpeace Indonesia: COP26 Glasgow Tidak Berbuah Manis

By OTech Media Center
November 16, 2021

KS, JAKARTA – Konferensi iklim COP26 yang baru saja usai ternyata tidak melahirkan kesepakatan ambisius. Sangat disayangkan mengingat COP adalah konferensi iklim tertinggi yang dihadiri oleh banyak pemimpin dunia, dan COP 26 seharusnya menjadi momentum krusial dan ujian bagi kemanusiaan. Sayangnya belum ada peta jalan yang jelas demi mencapai target 1,5 derajat Celcius.

Terhadap hasil COP26, Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak mengatakan, “COP Glasgow seharusnya bisa menyepakati target-target spesifik yang kuat dan terukur demi mencapai target utama pemanasan global maksimum 1,5 derajat Celcius. Nyatanya itu tidak terjadi. Di menit-menit terakhir justru sejumlah negara besar seperti India, Saudi Arabia dan Australia mengusulkan pelonggaran target berdasar kepentingan nasional masing-masing. Padahal upaya memerangi krisis iklim membutuhkan kerja sama global yang benar-benar harus berdasarkan bukti saintifik. Seluruh bukti saintifik yang ada menunjukkan bahwa kita menuju bencana iklim permanen, bila langkah-langkah perubahan fundamental pada ekonomi global tidak dilakukan mulai sekarang. Dan kita punya pengetahuan cukup untuk menyelaraskan perubahan-perubahan fundamental tersebut dengan pembangunan yang masih harus terus dilakukan.”

Indonesia sendiri masuk dalam daftar setidaknya 23 negara yang berkomitmen melakukan penutupan operasi PLTU batu bara secara bertahap. Dan pemerintah pun telah mengumumkan rencana penutupan operasi PLTU batu bara sebelum 2040, bila mendapat dukungan internasional. Rencana yang akan mengurangi emisi dari sektor energi secara signifikan ini diharapkan bisa terealisasi secara konkret. Pasalnya, RUPTL 2021-2030 justru masih menempatkan batu bara sebagai sumber energi utama. Oleh karena itu, perlu perubahan kebijakan energi secara mendasar dengan timeline yang jelas dan terukur. “Dalam hal pendanaan, sudah dan akan semakin banyak institusi finansial di luar negeri yang berhenti membiayai investasi terkait batu bara. Hal ini harus diikuti oleh lembaga perbankan nasional. Pembiayaan di sektor energi harus beralih dari batu bara ke energi bersih dan terbarukan,” ujar Tata Mustasya, Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

Di sektor kehutanan, Greenpeace mendesak pemerintah untuk berkomitmen melindungi hutan alam dan lahan gambut yang tersisa, menghentikan izin-izin baru dan melakukan evaluasi terhadap izin-izin konsesi yang sudah dikeluarkan, serta memperkuat penegakan hukum untuk mencapai nol deforestasi. Memperkuat moratorium hutan dan lahan gambut dengan regulasi yang kuat dan mengikat pada level Peraturan Presiden, dan melanjutkan moratorium sawit dengan berfokus kepada penyelamatan hutan alam, khususnya hutan alam yang tersisa dan belum dilindungi moratorium hutan dan gambut, dan mengakui serta melindungi hak-hak masyarakat adat. Menurut analisa Greenpeace, selama periode moratorium hutan dan gambut (2011-2018) total deforestasi di area moratorium mencapai 1,2 juta hektar (ha), sedangkan total deforestasi Indonesia baik di dalam dan di luar area moratorium mencapai 4,38 juta ha. Artinya, tingkat deforestasi di area moratorium mencapai 27,4% dari keseluruhan deforestasi yang terjadi di Indonesia. “Kami melihat target utama Indonesia dalam mengatasi krisis iklim dengan mencapai nol deforestasi sesuai dengan komitmen yang ditandatangani Presiden Jokowi. Kami pun menolak skema carbon offset karena memberikan hak berpolusi pada pencemar, dan menimbulkan potensi konflik baru pada masyarakat adat atau komunitas yang tinggal dan menggantungkan hidup pada hutan,” ujar Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace untuk Indonesia.  

“Sains menyatakan bahwa untuk mencapai target 1,5 derajat Celcius, emisi global harus berkurang 45% pada tahun 2030, bila dibandingkan dengan emisi global tahun 2010. Kita masih sangat jauh dari itu. Tapi COP26 Glasgow menunjukkan bahwa kita bisa lebih jauh dari target tersebut tanpa tekanan yang militan dari kaum muda, masyarakat adat, gerakan perempuan, dan gerakan iklim global. Kita masih punya banyak kerja ke depan untuk memastikan target-target yang lebih ambisius bisa disepakati di COP27,“ tutup Leonard. (Wid)

Tags:

Greenpeace IndonesiaWorld Leader Summit COP26
Author

OTech Media Center

Follow Me
Other Articles
Previous

Puan Minta Ada Audit Sistem Pengamanan Kilang-Kilang Pertamina

Next

Tiga Pekan Banjir di Sanggau, Sejumlah Wilayah Masih Tergenang Banjir

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Profil Senator

Maju Gantikan Ketua DPD, Sultan Klaim Didukung 105 Anggota

September 29, 2024

Ditengah Acara Deklarasi, Dua Anggota Terpilih 2024-2029 yang Hadir Serahkan Dukungan

June 23, 2024

DPD Apresiasi Menko Hadi Tegas Memberantas Judi Online

June 21, 2024

Ekonomi

Ancol Hadirkan Program Gratis Masuk untuk Masyarakat pada 10 Juli 2026, Sambuh HUT PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk

July 7, 2026

Peternak Harus Tetap Untung, Konsumen Tidak Terbebani

July 7, 2026

Kemendag Ingin Pasokan Stabil Meski Ekspor Menggiurkan

July 7, 2026

Agenda

Gelar Wakaf & Zakat Run 2024: BWI, Kemenag dan BAZNAS Ajak Masyarakat Berolahraga Sambil Beramal

November 24, 2024

Unand Gelar Webinar, Hadirkan Inspirasi dari Alumni Para Duta Besar

October 7, 2024

Dedi Senang Bisa Berolaharaga Bersama Cawagub Jabar Ilham Akbar Habibie

October 6, 2024
Logo_KS

Copyright @ 2026 — kabarsenator.com
PT. Dwikarsa Media Nusantara