KS, JAKARTA, 28 Maret 2026 – Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute, Iskandarsyah, menyampaikan bahwa peta politik menuju Pemilihan Presiden 2029 diprediksi akan semakin dinamis dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan, termasuk munculnya Gibran Rakabuming Raka sebagai kandidat kuat.
Dalam keterangannya di sela acara Halal Bihalal di Jakarta, Iskandarsyah menilai bahwa peluang Gibran untuk maju sebagai calon presiden sangat terbuka. “Konfigurasi politik 2029 sangat menarik. Banyak kemungkinan bisa terjadi, termasuk mas Gibran menjadi kandidat kuat dalam kontestasi Pilpres 2029,” ujarnya.
Ia juga menanggapi berbagai kritik dan cibiran yang selama ini diarahkan kepada Gibran. Menurutnya, hal tersebut tidak akan secara signifikan memengaruhi elektabilitas. “Walaupun banyak cemooh, itu tidak akan mengurangi peluang beliau. Faktanya, mas Gibran sudah berhasil menjadi Wakil Presiden hari ini,” katanya.
Iskandarsyah menambahkan bahwa salah satu keunggulan Gibran adalah gaya komunikasinya yang dinilai lebih hati-hati dibanding sejumlah pejabat publik lainnya. “Banyak pejabat berbicara tanpa pertimbangan hingga memicu reaksi publik. Mas Gibran tidak melakukan itu, dan ini menjadi nilai jual tersendiri menuju 2029,” jelasnya.
Menanggapi isu dinasti politik, Iskandarsyah menilai hal tersebut bukan sesuatu yang baru dalam sejarah Indonesia. Ia mencontohkan Megawati Soekarnoputri, putri dari Soekarno, yang juga pernah menjabat sebagai presiden. “Jadi tidak ada yang tidak mungkin,” tegasnya.
Terkait berbagai polemik yang pernah muncul, termasuk isu pendidikan, Iskandarsyah menilai hal tersebut tidak lagi relevan untuk diperdebatkan panjang.
“Semua tudingan sudah terjawab, bahkan satu per satu mulai mereda. Mari kita fokus ke masa depan, khususnya 2029,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan rencana untuk merilis survei politik pada April 2026, dengan simulasi Pilpres seolah digelar pada Juli 2029. “Kami akan melihat siapa saja kandidat yang berpotensi muncul. Jika rilis, kami akan mengundang rekan-rekan media,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Iskandarsyah turut menyoroti perkembangan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia memprediksi partai tersebut akan mengalami peningkatan signifikan berkat konsolidasi organisasi yang masif di berbagai daerah.
“PSI memiliki sistem kaderisasi yang tertata dari bawah ke atas. Tidak serta-merta karena kedekatan dengan elite, seseorang bisa langsung menduduki posisi strategis di daerah. Ini kekuatan mereka,” jelasnya.
Ia juga menyinggung faktor internal partai, termasuk keberadaan keluarga Gibran di dalam struktur PSI. “Saya melihat ada potensi besar bahwa mas Gibran akan difasilitasi melalui kendaraan politik PSI,” pungkasnya.(erlita)








