KS, BEKASI – Menghabiskan waktu bersama buah hati di pegunungan atau dataran tinggi kini menjadi pilihan populer keluarga urban untuk melepas penat. Namun, di balik udara segar dan panorama hijau, tersimpan risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian orang tua, terutama terkait sistem pernapasan anak yang masih sensitif.
Baru-baru ini, publik diingatkan oleh peristiwa di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, ketika seorang balita berusia 1,5 tahun diduga mengalami hipotermia setelah kehujanan saat mendaki bersama orang tuanya.
Direktur RS Budi Lestari Bekasi, dr. Titi Anggraeni Nasution, MARS, MM, menekankan bahwa orang tua perlu menyadari kapasitas paru-paru anak tidak sama dengan orang dewasa. Adaptasi terhadap oksigen tipis dan suhu dingin bisa menjadi tantangan serius. Ia menyarankan agar orang tua selalu memantau kondisi fisik anak secara berkala.
“Jika muncul tanda seperti napas lebih cepat dari biasanya atau anak tampak lesu mendadak, itu adalah sinyal darurat yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya. Kamis (16/04).
Di bawah kepemimpinannya, RS Budi Lestari terus berinovasi dengan standar pelayanan IGD yang responsif serta tim dokter spesialis siaga 24 jam.
“Komitmen kami adalah memberikan penanganan cepat dan tepat sasaran, terutama untuk kasus darurat anak pasca-aktivitas luar ruang,” tambahnya.
Kasus di Gunung Ungaran dan pesan edukatif dari dr. Titi menjadi pengingat bahwa quality time di alam terbuka harus diimbangi dengan persiapan matang dan pemahaman risiko kesehatan anak. Dengan sinergi antara aturan pendakian, fasilitas kesehatan yang mumpuni, dan orang tua yang teredukasi, momen kebersamaan keluarga bisa tetap indah tanpa berujung pada kecemasan medis.









