KS, JAKARTA – Park Jung-won atau dikenal dengan nama Tzuyang, seorang content creator mukbang asal Korea Selatan berkunjung ke area program Wahana Visi Indonesia (WVI) di Jakarta Utara sebagai bagian dari perjalanannya di Indonesia baru-baru ini. Bersama WVI, Tzuyang
mengunjungi kawasan hutan mangrove dan mendonasikan sekitar 600 juta rupiah secara simbolis dalam bentuk donasi uang dan pakaian bermerek Gardens. Pakaian ini kemudian dibagikan kepada 799 anak dampingan WVI di Jakarta. Kontribusi ini bertujuan untuk membantu ketahanan lingkungan area pesisir yang rentan terdampak bencana untukmasa depan anak-anak.
Data Peta Mangrove Nasional 2024 menyatakan bahwa jumlah hutan mangrove di pulau Jawa hanya berkontribusi sekitar 1,8% terhadap jumlah hutan mangrove nasional. Padahal, terdapat lebih dari 1.400 desa berada di lingkungan pesisir pulau Jawa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025. Ini menunjukkan gentingnya kondisi lingkungan masyarakat pesisir yang memiliki berbagai potensi ancaman langsung, seperti ancaman lingkungan, mata pencaharian, dan bencana alam. Merespon situasi tersebut, Wahana Visi Indonesia (WVI) menjalankan program Mangrove Adaptive and Resilient Village Project for Enhanced Livelihoods (MARVEL) sebagai upaya pemulihan lingkungan pesisir yang berlangsung selama lima tahun (2025-2030).
Tzuyang, content creator, menyampaikan kontribusi nyata yang ia berikan pada program MARVEL demi menjaga kelangsungan hidup lingkungan dan masyarakat pesisir. ”Pada perjalanan saya di Indonesia beberapa waktu yang lalu membuka mata saya bahwa Indonesia merupakan negara yang indah sekali. Dengan segala beragam kebudayaan dan potensi perkembangan, juga memiliki tantangan nyata yang masyarakat setempat alami. Untuk itu, saya juga ingin berkontribusi langsung kepada Indonesia, agar anak-anak Indonesia bisa memiliki ruang bertumbuh dan bermain yang mendukung perkembangannya hari ini dan di masa depan melalui program MARVEL ini.”
Rehabilitasi mangrove ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat perlindungan pesisir dari abrasi, gelombang pasang, serta dampak perubahan iklim, sekaligus mendukung ketahanan hidup masyarakat pesisir. Krisis lingkungan sendiri tidak bisa dilepaskan dari isu perlindungan anak. Asteria Aritonang, Resource Development & Communication Director WVI, menegaskan, “Lingkungan yang rusak akan langsung memengaruhi kesehatan, rasa aman, dan kualitas tumbuh kembang anak. Ketika banjir rob terjadi berulang dan ekosistem pesisir melemah, anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak, baik secara fisik maupun psikososial. Untuk itu, kontribusi Tzuyang pada program MARVEL akan sangat membantu kami untuk memastikan upaya adaptasi dan pemulihan lingkungan berjalan secara berkelanjutan guna memenuhi hak dasar anak untuk tumbuh di lingkungan yang aman dan nyaman.”
Kolaborasi antara Wahana Visi Indonesia dan Tzuyang yang difasilitasi oleh World Vision Korea bertujuan untuk membangun kesadaran serta mengundang partisipasi masyarakat terhadap pelestarian lingkungan pesisir.








