KS, Jakarta – Industri smartphone global tengah bersiap menghadapi perubahan besar. Uni Eropa resmi menetapkan aturan baru yang mewajibkan seluruh ponsel menggunakan baterai lepas-pasang mulai Februari 2027. Kebijakan ini merupakan bagian dari regulasi Right to Repair yang bertujuan mengurangi limbah elektronik sekaligus memudahkan konsumen memperbaiki perangkat mereka.
Meski aturan hanya berlaku di wilayah Uni Eropa, mekanisme produksi massal diprediksi akan membuat desain ponsel di pasar internasional ikut terdampak. Produsen besar seperti Samsung dan Apple kemungkinan harus menyesuaikan lini produk mereka agar sesuai regulasi.
Namun, aturan ini tidak berarti ponsel akan kembali ke desain lama dengan casing yang mudah dibuka. Regulasi menekankan baterai harus bisa diganti konsumen tanpa alat khusus, kecuali jika alat tersebut sudah disediakan gratis dalam paket pembelian.
Aturan baru memberi celah bagi perangkat yang baterainya mampu mempertahankan kapasitas 80 persen setelah 1.000 siklus pengisian daya. Apple disebut berpotensi masuk kategori pengecualian, karena iPhone 15 yang dirilis sejak 2023 sudah memenuhi standar tersebut.
Kebijakan ini mendapat respons positif dari konsumen. Di forum daring, banyak pengguna menilai aturan tersebut ramah konsumen karena baterai merupakan komponen pertama yang biasanya mengalami penurunan fungsi.
“Akhirnya balik ke HP zaman dulu, tinggal buka casing langsung ganti baterai,” tulis salah satu komentar warganet.
Meski disambut baik, produsen ponsel menghadapi tantangan baru. Desain tipis dan tahan air yang selama ini menjadi tren harus dikompromikan dengan kebutuhan baterai lepas-pasang. Perubahan ini diperkirakan akan memengaruhi estetika dan struktur bodi perangkat. (A2n)









