KS, Serasan – Setiap dua minggu sekali, di saat fajar mulai menyingsing, suasana di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Serasan berubah drastis. Para pedagang bergegas menggelar lapak, sementara warga sudah siap memburu sembako dengan harga lebih terjangkau. Namun, ada satu hal yang membuat pasar ini berbeda: semuanya harus terjadi dalam waktu tiga jam.
Pasar dadakan ini berlangsung seiring kedatangan Kapal Sabuk Nusantara 36, yang merapat di pelabuhan PLBN Serasan pada pukul 06.00 WIB dan kembali berlayar pukul 09.00 WIB. Dalam waktu singkat, kegiatan ekonomi pun bergerak, membawa harapan bagi masyarakat perbatasan yang bergantung pada pasokan dari luar pulau.
“Kami selalu menunggu momen ini. Harga lebih murah dan barang lebih lengkap dibandingkan pasar lokal,” ujar Rahmad, seorang warga Serasan yang rutin datang ke pasar ini.
Bagi warga Serasan, pasar ini bukan sekadar tempat belanja, tetapi bagian dari strategi bertahan hidup. Di Pasar Dadakan PLBN Serasan, bawang merah dijual Rp35.000/kg, bawang putih Rp38.000/kg, dan apel Rp5.000/butir—harga yang jauh lebih murah dibandingkan pasar reguler yang bisa mencapai Rp45.000/kg untuk bawang merah dan Rp8.000/butir untuk apel.
Perbedaan harga ini sangat berdampak bagi masyarakat yang selama ini harus menghadapi tantangan distribusi bahan pokok. Pasokan yang terbatas membuat harga di pasar reguler melonjak, terutama untuk produk yang diangkut dari luar daerah.
BACA JUGA : Petugas BNPP-RI Tinggalkan Keluarga Demi Tugas Perbatasan di Hari Raya
“Dengan adanya pasar ini, kami bisa mendapatkan bahan makanan lebih murah. Kalau tidak ada, kami hanya bisa pasrah dengan harga di pasar lokal,” kata Siti, ibu rumah tangga yang mengandalkan pasar dadakan untuk kebutuhan keluarganya.
Di balik keberhasilan pasar ini, ada peran besar Kapal Sabuk Nusantara 36, yang menjadi satu-satunya jalur distribusi bagi warga Serasan. Kapal ini membawa pasokan sembako, buah, dan barang kebutuhan lain, sekaligus menjadi penghubung penting bagi perekonomian warga perbatasan.
BACA JUGA : Kartini Masa Kini di PLBN Nanga Badau: Perempuan Tangguh di Garis Depan
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kami dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga sembako di wilayah perbatasan. Kapal Sabuk Nusantara 36 memiliki peran penting dalam distribusi logistik, khususnya untuk masyarakat di wilayah terpencil seperti Serasan,” ujar Wendriady, Kepala PLBN Serasan.
Untuk memastikan kelancaran distribusi, PLBN Serasan berkoordinasi dengan CIQP (Customs, Immigration, Quarantine, and Port Authorities) serta TPO (Trade Promotion Organization). Sinergi antarinstansi ini penting agar pasokan tetap stabil dan harga tidak melonjak tajam.
Pasar dadakan ini bukan hanya tentang transaksi jual beli, tetapi tentang harapan dan keberlangsungan hidup. Bagi warga Serasan, kesempatan tiga jam ini adalah pintu bagi akses yang lebih baik, harga yang lebih terjangkau, dan ekonomi yang lebih stabil.
Saat Kapal Sabuk Nusantara 36 perlahan meninggalkan pelabuhan, pasar pun selesai. Warga kembali ke rumah dengan barang yang mereka butuhkan, sementara para pedagang mulai merapikan dagangan mereka, menunggu dua minggu lagi untuk kesempatan berikutnya.










