KS, Jakarta – Di tengah semangat pembaruan tata kelola ibadah haji dan umrah, Indonesia tengah memasuki babak baru yang menjanjikan. Transisi kelembagaan dari Kementerian Agama ke Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bukan sekadar perubahan struktur, melainkan harapan akan pelayanan yang lebih manusiawi dan efisien bagi jutaan jemaah.
Bagi para pelaku industri travel, langkah ini disambut dengan antusias. Ivan Septiadi, Direktur Utama Duta Mulia Travel, melihatnya sebagai peluang emas untuk memperbaiki sistem yang selama ini dinilai terlalu birokratis.
“Kami melihat ini sebagai momentum untuk memperbaiki sistem. Harapan kami, proses umrah dan haji bisa lebih mudah, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan jemaah,” ungkap Ivan.
Sebagai biro perjalanan yang aktif melayani jemaah dari berbagai penjuru tanah air, Ivan menekankan pentingnya digitalisasi dan penyederhanaan prosedur. Menurutnya, kehadiran Kemenhaj membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara pemerintah dan pelaku usaha.
BACA JUGA : Presiden Prabowo Resmikan Terminal Khusus Haji dan Umroh Bandara Soekarno-Hatta
“Kami siap mendukung penuh transisi ini. Semoga lebih baik dari sebelumnya,” tambahnya dengan penuh keyakinan.
Langkah percepatan ini diperkuat melalui pertemuan antara Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, dan Wamenag Romo Muhammad Syafi’i. Keduanya sepakat untuk segera menyelesaikan alih tugas, aset, dan SDM sesuai amanat UU No. 8 Tahun 2019 dan Perpres No. 92 Tahun 2025.

Di balik proses transisi yang masih berlangsung, tumbuh harapan besar dari para jemaah dan pelaku industri. Mereka menanti sistem yang lebih adaptif, kebijakan yang lahir dari dialog, serta pelayanan yang mengedepankan kenyamanan dan ketenangan batin.
Karena pada akhirnya, ibadah haji bukan hanya soal menunaikan rukun Islam kelima. Ia adalah perjalanan spiritual yang layak dikenang dengan pelayanan yang hangat, prosedur yang bersahabat, dan pengalaman yang menenangkan.









