KS, JAKARTA – Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah yang juga pengamat politik pada acara diskusi santai di Sentul Jawa Barat, Sabtu 4/1/2025,
Iskandar menganggap ini sebagai provokasi publik, bagaimana tidak saya katakan ini provokasi, setelah rilis ini dikeluarkan lalu OCRRP sampaikan juga bahwa mereka tidak mempunyai cukup bukti terkait rilisnya dan semua berdasarkan email yang masuk, ada apa sama bangsa ini?
Sebelumnya ramai terkait Sekjend Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ramai-ramai kader PDIP menyerang dan menganggap ini kriminalisasi dan lain-lain.
Rakyat diajak membenci orang yang bersiteru dengan mereka, semua kadernya masif teriak-teriak di medsos dab media-media lain.
Pertanyaan saya sederhana kok, waktu pak Jokowi berkuasa dan mereka adalah pengusungnya, apa mereka tak nikmati semua?, ke semua instansi bawa nama PDIP maka prioritas kok, kasus Hasto dari 2020 juga sudah tersangka orang ini kok, karena masih bisa dilindungi ya dilindungi, kan mereka masih akur tidak seperti sekarang,
Jadi jangan memprovokasi masyarakat dengan pernyataan ataupun video-video podcast yang sifatnya mengancam dan terus mengancam, tak ada gunanya dan tak ada efeknya.
Kalau bicara kriminalisasi apa kawan-kawan tidak lakukan itu kepada kawan-kawan oposisi?, bang Egy Sudjana, Bang Syahganda bahkan pak Kiflan Zein, kurang apalagi?
Jangan merasa terzholimi padahal sebelumnya kalian zholim tambah Iskandar,
Terkait pemecatan kader-kader PDIP Pra Kongres, apakah ini akan berefek?, Buat saya biasa aja kok, Pak Jokowi, putranya, mantunya, dan kader-kader yang lain dipecat tak masalah kok, biasa dalam berorganisasi.
Berapa banyak kader-kader PDIP yang dicopot oleh partainya, mereka-mereka yang berdarah-darah membela mba Mega di 1996, seperti Mas Permadi, Alm. Haryanto Taslam, Alm Sophan Sofyan, Laksamana Sukardi, Kwik Kian Gie, Dimiyati Hartono, Pak Sutardjo Soeryogoeritno, Alex Litay (Mantan Sekjend PDI 96), semua biasa aja kok, yang berdarah-darah saja biasa apalagi yang belum berbuat apa-apa kepada partainya kata Iskandar menutup wawancaranya.(erlita)








