Calon Jamaah Haji Wajib Ikut Manasik Kesehatan Mulai 2027
KS, Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI akan menerapkan program manasik kesehatan bagi calon jamaah haji mulai musim haji 2027. Kebijakan ini lahir dari evaluasi penyelenggaraan haji 2026, dengan tujuan kesiapan fisik jamaah sekaligus memastikan risiko kesehatan selama ibadah di Tanah Suci.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut manasik kesehatan akan menjadi bagian dari proses keberangkatan jamaah.
BACA JUGA : Presiden Prabowo Resmikan Terminal Khusus Haji dan Umroh Bandara Soekarno-Hatta
“Mulai tahun depan, kami memperkenalkan istilah manasik kesehatan. Jamaah yang akan berangkat akan kami dampingi dan asistensi proses manasik kesehatannya agar dipastikan mereka sehat,” ujarnya di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (02/07).
Evaluasi tahun ini menunjukkan jumlah jamaah wafat menurun menjadi sekitar 360 orang, dibandingkan 447 orang pada musim haji sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut masih di atas standar wajar yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan akan diperketat. Jamaah yang tidak sehat dan tidak mampu beribadah secara mandiri kemungkinan besar tidak akan diberangkatkan.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menekankan pentingnya peran Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) dalam mendampingi jamaah memenuhi syarat kesehatan. Ketua Umum FK-KBIHU, Manarul Hidayat, menyatakan siap menyusun rekomendasi hasil evaluasi untuk mendukung kebijakan pemerintah.
BACA JUGA : Aan Dwi Puantoro Imbau Jemaah Umrah Tetap Jaga Kesehatan Meski Syarat Vaksin Dihapus
Program manasik kesehatan menandai perubahan paradigma. Pemerintah tidak hanya menekankan kesiapan administrasi dan manasik ibadah, namun juga menjadikan kesiapan fisik sebagai bagian utama proses keberangkatan. Pendekatan ini sejalan dengan regulasi Arab Saudi yang mewajibkan setiap negara mengirimkan jamaah sehat dan mampu beribadah secara mandiri.
Langkah preventif ini diharapkan mampu menekan risiko komplikasi penyakit, kelelahan ekstrem, hingga angka kematian jamaah. Dengan demikian, kesehatan jamaah bukan lagi sekadar urusan medis, melainkan bagian integral dari keberhasilan ibadah haji. (A2n)
