KS, JAKARTA – Peneliti Politik Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia ( PSIK – Indonesia) Guswin Noorizal mengingatkan pentingnya para caleg untuk memiliki strategi khusus dan menguasai medan Daerah Pemilihan (Dapil) yang akan diolah.
Pemetaan Dapil dan mengetahui seluk beluk suatu desa atau wilayah harus benar-benar dipelajari dengan cara menerjunkan tim khusus. Pemetaan Dapil ini penting untuk mengatur komposisi tim di setiap dareah. Caleg harus tahu daerah mana yang merupakan basis miliknya dan bukan basis.
Caleg juga harus mengukur kekuatan tim di suatu desa dengan begitu ia bisa mematok target suara yang realisitis.
“Pemantauan dan analisa tiap desa, kejaroan hingga RT ini menjadi penting untuk mengetahui kekuatan tim Caleg dan lawannya, ” terang Almnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kepada media Senin (27/11/2023) kemarin.
Kemampuan tim kecil Caleg yang mewakili setiap desa menjadi penting untuk melakukan analisa sebelum bergerak. Agar tidak salah memilih relawan atau kader di tiap RT atau TPS. Sebab ada banyak caleg yang gagal justru karena salah memilih relawan.
“Relawan itu menjadi kunci, sebab jarak kedekatan Caleg dan pemilih itu jauh, kecuali pemiluh di Caleg sendiri. Tapi kalau di desa atau kecamatan lain tentu saja jauh, karena itu Caleg butuh relawan yang militan dan loyal. Bukan relawan ‘pemain’ yang tidak punya reputasi dalam memperoleh suara”, tegas Guswin menambahkan.
Guswin juga memperingatkan para caleg untuk waspada dengan para pemain yang wara wiri menawarkan diri untuk menjadi relawan. Sebab bisa jadi para pemain ini tidak hanya menawarkan diri ke salah satu caleg.
“Di musim Pileg ini di kampung-kampung biasanya banyak para pemain, nah pemain ini biasanya hanya cari uang, mengobral janji siap bawa massa ratusan hingga ribuan, tapi hasilnya nol. Nah, Caleg harus tahu di setiap desa, siapa relawan yang loyal punya reputasi baik, dan siapa pemain yang hanya mikirin supaya dapat uang, apalagi di malam H nanti. Banyak relawan saat malam H dipercaya menyebar logistik tapi dimakan sendiri. Nah, tipe-tipe relawan seperti inilah yang merusak atau membuat gagal caleg, karena itu harus diwaspadai”, tambah Guswin.
Selain itu, lanjut Guswin, biasanya pemain di suatu desa masing-masing sudah punya data untuk disodorkan ke Caleg, tujuannya agar mereka nanti dipercaya mengelola massa, padahal mereka hanya usaha untuk kepentingan sendiri.
Pemain tipe ini juga biasanya ingin caleg jor-joran mulai menebar sembako, atau logistik lainnya untuk masyarakat. Mereka biasanya menakut-nakuti caleg agar segera bergerak, khawatir caleg lain sudah masuk. Padahal perilaku jor-joran dari awal hanya akan merugikan dan membuat boros pengeluaran caleg, hingga kadang caleg kewalahan. Sementara hasilnya tidak terukur.
“Karena itu, jangan khawatir caleg kehabisan kader atau relawan, sebab sebenarnya banyak calon relawan yang bisa meraih suara, setidaknya keluarga sendiri yang bukan pemain. Biasanya mereka yang punya reputasi atau nama baik sebagai relawan tidak mudah mengubar janji, tidak mau mengakali caleg. Mereka lebih tenang dan apa adanya. Nah tipe relawan ini yang harus dipilih, apalagi kalau dia punya keluarga besar, ” tegas Guswin.
Jika punya relawan yang baik dan loyal, caleg tidak perlu khawatir bergerak. Sebab massa atau pemilih di bawah itu, baru akan menentukan suara Caleg 2 minggu sebelum pencoblosan. Apalagi kalau pileg, biasanya sangat tergantung pada relawan.
“Jadi pemilih itu milih kita atau gak, tergantung gerak relawan. Tergantung relawan itu jujur atau tidak menyampaikan pesan dan logistik, bukan hanya relawan yang sesumbar tapi pas hari penghitungan mereka menghilang, ” tutur Guswin menutup keteranganya. (red)








