KS, PEMALANG – Siang itu udara panas di perempatan Lampu merah Gandulan, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang tepatnya di dekat dengan gedung DPRD Pemalang, sangat menyengat bagi para pengguna jalan atau pejalan kaki.
Buat para pengais rejeki di Lampu merah Gandulan, seperti pedagang asongan, penjual jasa lap kaca mobil, pengamen hal panas tersebut sudah tidak pernah di rasakan lagi oleh mereka, karena di situlah panas menghentak, mau tidak mau mereka harus menjalaninya. Sebab di situlah ladang rejeki berpeluh keringat matahari menyengat, tak surutkan semangat para rakyat melarat.
Sepasang suami istri bernama Arifin dan Farida adalah bagian dari mereka para penjemput rejeki di perempatan lampu merah Gandulan yang terkenal panas, karena minimnya penghijauan atau pepohonan di wilayah tersebut.
Arifin dan Farida sudah lama hidup di jalanan, berpuluh tahun lama nya mereka menjalani kehidupan rumah tangganya di jalanan sebagai pengamen. Bahkan dulu ketiga orang anak balitanya di ajak serta cari nafkah.
Seharian mereka berpisah mencari nafkah di jalanan dan pasar, baru menjelang malam bertemu keluarga kecil itu berkumpul di sebuah taman sebagai tempat tinggal mereka selama berpuluh tahun lama nya.
Arifin seorang warga Kecamatan Bantarbolang tiap hari bersama istri nya, menjalani kehidupan sebagai pengamen dengan kostum boneka badut.
“Ngga mesti mas, kadang di lampu merah Randudongkal, Banjardawa , kadang ya di sini di lampu merah Gandulan,” ujar Arifin saat ditemui jurnalis kabarsenator.com, Senin (30/5/2022) siang.
Sambil membuka tutup kepala badutnya, Arifin bercerita, bersama istri tercintanya ia rela mengenakan kostum boneka badut ala film kartun Micky Mouse yang mereka sewa di salah seorang bos boneka dikawasan Randudongkal Pemalang.
“Harga sewa 50 ribu rupiah untuk sepasang kostum boneka badut dan tape recorder sebagai musik pengiring dalam menjalani aksi mengamennya,” ujarnya dengan suara lirih.
Pria kelahiran asli Kabupaten Serang – Banten ini menuturkan, jika dirinya terpaksa menjalani profesi mengamen ini sekedar untuk menyambung hidup setelah tidak lagi bekerja disektor formal.
“Saya dulu karyawan jalan tol Bina marga, sebagai tukang sapu jalan setelah kena PHK terpaksa saya mengamen dan mencari nafkah di jalanan,” kata Arifin.
Siang hari udara panas matahari kian menyengat, tak hayal tubuh kurus Arifin pun bercucuran keringat secara deras. Akan tetapi sepasang suami istri Arifin dan Farida tak pernah patah semangat dalam menapaki narasi takdir hidupnya nampak dari dekat gedung wakil rakyat berdiri kokoh pamerkan pemandangan yang menyakitkan bagi rakyat melarat yang sekarat kepanasan mengais rejeki di simpang lampu merah. (rgl)








