KS, Jakarta – Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang memperlihatkan seorang askar atau tentara Arab Saudi menampar seorang ibu jamaah umroh. Potongan video singkat itu memicu beragam komentar, sebagian menilai tindakan askar kasar terhadap tamu Allah, terlebih kepada seorang perempuan.
Namun, dalam sebuah podcast yang dipandu jurnalis Aan Dwi Puantoro, narasumber Ustadz Zakaria mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru menilai hanya dari potongan video yang beredar. Menurutnya, insiden tersebut memiliki runtutan peristiwa yang perlu dipahami secara utuh.

“Kalau kita melihat dari konteks yang lengkap, ibu itu sebenarnya sudah dilarang berkali-kali. Ada area yang memang tidak boleh dilewati, sudah ada pembatasnya. Tapi ibu itu tetap ngotot, diingatkan sekali, dua kali, tiga kali. Karena itu memang hal yang dilarang, akhirnya terjadi insiden,” jelas Ustadz Zakaria dalam podcast, Minggu (25/01/2026) malam.
BACA JUGA : Pesan Bijak dari Tanah Suci: Insiden di Masjidil Haram Jadi Pelajaran Penting
Ia menekankan bahwa aturan di Tanah Haram bukan untuk membatasi jamaah, melainkan menjaga ketertiban dan kekhusyukan ibadah.
“Jangan sampai ibadah yang seharusnya khusyuk ternodai oleh sikap keras kepala. Jamaah harus memahami bahwa aturan di sana dibuat demi kebaikan bersama,” tambahnya.
Suasana podcast berlangsung hangat namun penuh refleksi. Aan Dwi Puantoro menyoroti bagaimana potongan video yang beredar sering kali tidak menampilkan konteks lengkap, sehingga memunculkan persepsi keliru di masyarakat.
Ustadz Zakaria juga mengingatkan jamaah umroh dan haji agar lebih sabar serta patuh terhadap arahan petugas.

“Orang Indonesia itu biasanya sekali diarahkan akan mengikuti arahan askar dengan manut. Kalau melihat orang Indonesia, askar akan lebih lembut. Insya Allah jarang sekali jamaah Indonesia yang terlibat kasus di Tanah Suci,” ujarnya.
BACA JUGA : Umroh Mandiri vs Travel: Menimbang Nyaman, Aman, dan Tenang dalam Perjalanan Spiritual
Viralnya video ini menjadi pengingat penting bahwa ibadah di Tanah Haram menuntut kedisiplinan dan kepatuhan terhadap aturan. Sikap sabar dan menghormati petugas bukan hanya menjaga kehormatan diri, tetapi juga bagian dari menghormati kesucian tempat ibadah. (A2n)









